December 17, 2012
Christmas Carol
Bahagia itu sederhana. Ya. Sesederhana saat melihat adik-adik dengan tulus melayani dan memberikan penghiburan untuk jemaat yang dikunjungi. Sesederhana saat melihat oma-opa, tante-om, dan teman-teman yang tersenyum ketika menyambut kami. Sesederhana saat mengisi waktu perjalanan dengan humor yang menghangatkan langit Bandung yang seharian ini dibalut oleh dinginnya hujan. Sesederhana saat melihat semangat kakak-kakak layan dalam menuntun adik-adik melakukan pelayanan. Sesederhana saat melihat oma-opa, tante-om, dan teman-teman yang begitu excited saat memberikan kami "oleh-oleh" permen, coklat, biskuit, dan gula-gula. Sesederhana saat melihat satu-dua oma, opa, tante atau om yang menitikkan airmata ketika menerima kunjungan kami. Sesederhana itulah bahagiaku, bahagia kami, saat menerima ucapan tulus terimakasih mereka, lewat setiap genangan airmata yang keluar ketika kami berpamitan.
Seluruh kegiatan ini sangat menguras tenaga. Namun, kebahagiaan yang hadir seolah menjadi obat tak kasat mata yang dengan manjur "mengambil" setiap lelah yang dirasakan. Dan.. bahagia adalah sesederhana saat kami yakin bahwa Tuhan berkenan atas pelayanan hari ini. Selamat menyambut Natal. Let's do our next Christmas Carol greater than this day!
October 25, 2012
Langkah kaki
Ketika sesak dan bahagia berbaur dan bercampur menjadi satu, saat pikiran tentangmu menerobos masuk tanpa bisa dicegah.., disaat itulah aku sadar. Sedikit menyedihkan ketika mengetahui bahwa terdapat jarak sangat jauh yang membentang dihadapan. Dan, jarak itu memisahkan. Layaknya benteng kuat dan kokoh yang menghalangi usahaku untuk dapat menyamakan langkah-langkah kaki kecilku dengan langkah-langkah kaki kokohmu. Oh, baiklah. Aku ber-simile, dan aku tahu aku gagal.
Langit dan bumi (tanah) memang berbeda. Jauh berbeda. Langit hanya dapat menunduk kebawah, bumi hanya dapat menengadah keatas. Keduanya sama-sama sadar, mereka takkan pernah bisa saling bersentuhan.
Bawa aku pergi dalam angan. Dan aku akan menggenggammu dalam keteduhan hati. Mungkin kita dapat berjalan beriringan, meski dalam diam dan kemustahilan.
Sekarang, bergegaslah tidur. Disana, akan kau temukan kenyataan sesaatmu. Sampai bertemu.
September 10, 2012
Ruangan penuh cerita
Aku ingin bercerita tentang sebuah ruangan.
Ruangan yang ukurannya tidak seberapa. Bahkan terbilang sangat kecil dan sempit. Dan sekarang, ruangan kecil ini sudah berisi mereka yang disebut keluarga, saudara-saudara, dan sahabat, yang jumlahnya tentu tidak sedikit. Mereka memiliki tempatnya masing-masing di ruangan kecil ini.
Tentu kau dapat membayangkan bagaimana ruangan kecil ini dapat menjadi tempat sandaran bagi banyak orang, seperti yang sudah kusebutkan diatas.
Awalnya, aku bingung. Aku tak mengerti, mengapa ruangan kecil ini dapat menampung hampir semua orang yang kau kenal sepanjang hidupmu, tanpa pernah merasa sempit sedikitpun. Catat: merasa. Yang terjadi belum tentu demikian.
Namun sekarang, aku mengerti. Ternyata, ruangan kecil ini elastis. Sangat elastis, dari dalam.
Sekilas, jika kau hanya sekadar lewat atau hanya melihat dari kejauhan, yang kau temukan hanyalah sebuah ruangan yang sangat sempit dan sesak.
Namun jika kau mendekat, mendekat..., dan bahkan memutuskan untuk masuk, kau akan temukan, bahwa bagian dalam ruangan ini sangat elastis. Setiap orang yang berada di dalamnya dapat bermain, berlarian kesana-kemari tanpa hambatan berarti, karena elastisitas dari ruangan itu sendiri. Ya, ternyata, ia dapat menampung sebanyak-banyaknya orang yang ingin masuk.
Sayangnya, tidak semua orang yang memutuskan untuk masuk ke ruangan kecil ini, adalah orang yang memiliki niatan baik. Ada saja orang-orang yang berniat jahat datang, masuk, dan mulai merusak dinding-dinding ruangan elastis ini secara perlahan-lahan; dinding-dinding penopang, dinding-dinding tempat bersandar. Mereka sangat sibuk merusak dan mengotori ruangan kecil ini, sampai-sampai membuat si pemilik ruangan yang awalnya marah, akhirnya hanya dapat menangis, mulai kebingungan dan kehabisan akal untuk menambal dinding-dinding yang rusak akibat ulah orang-orang yang mengecewakan ini.
Ah, tunggu. Aku melupakan sesuatu. Begini, ketahuilah, kau sudah memiliki tempatmu sendiri di ruangan kecil ini. Dan yang kuharapkan, suatu saat nanti, saat kau memutuskan untuk datang, kau bukan sekedar datang, masuk, kemudian hanya duduk diam. Melainkan bersedia meluangkan waktumu untuk membantu si pemilik ruangan memulihkan keadaan di ruangan kecilnya ini.
Oh, ya. Jika kau ingin tahu, ruangan kecil ini bernama hati.
August 31, 2012
Singkat.
Kamu hanya datang sesaat, namun membekas sudah sebegininya.
Aku tak mengerti mengapa.
Berbicara denganmu sangat-sangat menyenangkan. Hanya pembicaraan-pembicaraan ringan, dan kau mampu membuatku tersenyum dengan lelucon-lelucon kecil yang kau selipkan didalam pembicaraan kita. Betapa menyenangkannya.
Sayangnya, aku tahu, aku tak dapat berbuat banyak. Kita berbeda. Aku tak bisa "menyelipkan" kamu di dalam hatiku. Oh, bukan. Bukan tidak bisa. Tapi tidak boleh. Tidak seharusnya. Sekeras apapun aku coba menyangkal, aku takkan pernah bisa menepis kenyataan itu.
Sampai sekarang, aku tak tahu mengapa kau bisa datang dengan tiba-tiba beberapa waktu lalu, dengan segala hal tentangmu yang sebelumnya tidak pernah kuketahui. Mengapa? Dan sekarang, saat ini, kau bergegas pergi lagi. Sepertinya. Apakah kau sudah menyadari tentang perbedaan kita, karena itu kau kembali mundur?
Maafkan aku. Tak dapat kusangkal, kau memenuhi pikiran. Apa yang sudah kita lewati dalam waktu singkat ini membuatku tidak mungkin melupakannya begitu saja. Itu semua cukup berarti.
Sekarang, jika kau ingin pergi, silahkan pergi. Terimakasih untuk waktu singkat yang sudah kau sediakan untukku. Terimakasih untuk semuanya.
Meskipun aku sadar aku takkan pernah bisa menggenggam tanganmu, ketahuilah, aku pernah memikirkanmu. Sangat memikirkanmu. Membangun secuil harapan untuk dapat memiliki pembicaraan denganmu seperti akhir-akhir ini. Dulu. Dulu sekali.
Entahlah. Terkadang, perasaan bisa datang dengan sangat tiba-tiba, dan kau hanya tak dapat menyangkalnya.
August 17, 2012
new-friend's coming
Hai.
Kalo perkiraan gue nggak salah, mungkin ini untuk ketiga (atau keempat) kali-nya gue ketemu orang kayak lo.
Too different. Sampe gue kaget.
Haha.
Entah apa yg ada dipikiran lo waktu kenal gue.
Awalnya, gue nggak nyaman. Sama sekali nggak.
Ketemu sama orang yang "terbuka" tentang apa saja, penasaran sama banyak hal, blak-blakan..., oh, please.
Gue jarang ketemu orang kayak lo. Haha.
Dan karena itu, gue nggak terbiasa. Lo tau kan gimana awkward-nya obrolan kita pas awal-awal?
Itu karena gue terlalu kaget.
Sampe sekarang juga masih. Hahaha.
Tapi makin kesini, gue mulai bisa ngambil positifnya. Gue belajar banyak dr perkenalan kita. Ntar, kapan-kapan gue jelasin deh. :)
Thanks ya.
Oh ya, 1 lagi,
gue mulai nyaman.
Punya temen kayak lo (sebenernya) asik juga. Haha.
Selamat saling mengenal ya.
Kita masih bisa sharing tentang banyak hal. Lo tinggal siapin cappuccino puluhan sachet, buat mencegah mata gue nutup pas lagi denger cerita lo.
Sip? Sip.