Thank you for everything, God.
You are my provider, my all in all.
I'm blessed.beyond.measure.
Thank you for everything, God.
You are my provider, my all in all.
I'm blessed.beyond.measure.
Beberapa menit menuju tahun 2021.
Jika mengingat kembali hal-hal yang terjadi di tahun 2020 ini, tentu banyak hal yang disyukuri, meski duka serta kekecewaan juga hadir melengkapi hari-hari yang berjalan di tahun ini.
Tapi tidak mengapa, lagi-lagi tidak mengapa.
Karena topangan Tuhan selalu nyata, meski hati tak selalu mudah untuk menerima kenyataan seapa-adanya.
Semoga tahun depan lebih baik. Aku tidak minta lebih, apalagi yang muluk-muluk, karena sepanjang hidup sepertinya aku selalu lebih banyak meminta daripada memberi.
Tuhan sertai langkahku saja, rasanya sudah lebih dari cukup.
Should I ask for more?
Beberapa jam menuju 2019.
Ingatan akan apa yang terjadi di sepanjang tahun 2018 berkelibat didepan mataku.
Dalam menghadapi fase-fase kehidupan, aku percaya, setiap orang pernah berada di satu titik terendahnya.
Tak terkecuali aku.
Kemudian ada yg bertanya,
"Berada di titik terendah itu definisinya apa, sih?"
Tentu ini pun subjektif juga.
Untukku sendiri, titik terendah mungkin bisa digambarkan sebagai suatu kondisi dimana aku benar-benar merasa keberadaanku di dunia ini tak berarti apapun, bagi siapapun.
Selama ini sering aku menemukan kesaksian orang-orang, baik melalui tulisan, channel TV, Youtube, cerita langsung, dan sebagainya..bagaimana banyak orang menghadapi situasi dimana mereka merasa benar-benar ditinggalkan; merasa benar-benar sendirian; merasa benar-benar tidak berharga.
Beberapa menangisi situasi tersebut. Beberapa nekat mencoba mengakhiri hidup. Lainnya berteriak marah kepada Tuhan.
Dan di titik terendah inilah, di tahun ini, untuk pertama kalinya,
Aku merasakan betul apa yang mereka rasakan.
Tak pernah sebelumnya aku merasakan kehampaan yang begitu menyiksa;
Sakit di hati yang rasanya terus menusuk tanpa tahu kapan akan berhenti;
Tangisan yang rasanya tak mengenal akhir;
dan keberadaan Tuhan yang rasanya sangat jauh, jauh sekali..
Teriakanku minta tolong sejalan dengan airmata yang terus tumpah memberatkan mata.
Ada lelah tak berujung yang kurasakan di titik ini.
Kenyataan menamparku keras sampai aku tak sanggup lagi untuk berlari.
Di titik ini, aku dipaksa untuk menonton kebodohanku sendiri, menonton keadaan menertawakanku dengan sangat kencang.
Babak belur aku dihajar oleh kenyataan yang menyakitkan. Ia menelanjangiku tanpa ampun, mengikis habis kepercayaanku pada diri sendiri...
Aku berkubang dalam kesedihan yang mendalam;
aku bertahan berada dalam titik yang menyakitkan ini;
aku menyerah pada mimpi buruk yang datang setiap malam...sampai Tuhan, dengan caraNya yang tak pernah kumengerti, membuatku kembali melihatNya dalam letihku yang amat sangat.
Aku tahu betul, untuk keluar dari titik ini, aku akan melewati proses yang panjang dan sulit.
Namun aku sadar kemudian,
bahwa di titik inilah, titik dimana aku jatuh dan tidak berdaya, aku kembali menemukan Tuhan.
Dan didalam seluruh keberadaanku saat ini,
aku mau berserah penuh...
Beberapa saat yang lalu aku menemukan sebuah ranting,
saat sedang berjalan-jalan menyusuri hutan nan gelap lagi sunyi, namun mendamaikan.
Hidupku baik-baik saja, sampai kusadari ranting itu hampir kuinjak kalau saja aku tidak berjalan pelan-pelan sambil menunduk.
Aku mengambil ranting itu. Bentuknya unik; terlihat rapuh dan kuat sekaligus. Sekilas, aku dapat melihat sebuah goresan kecil di salah satu sisinya, yang membuatnya terlihat indah dan menyayat di saat yang bersamaan.
Kemudian aku memutuskan untuk membawa ranting itu pulang, ke gubuk kecil tempatku menginap sementara di sekitar hutan itu.
Diatas meja kayu, kuletakkan ranting itu, sambil aku duduk dan pelan-pelan memperhatikannya dengan seksama.
Ternyata, Ia indah sekali. Satu goresan kecil yang kutemui saat kuambil pertama kali tadi ternyata memiliki beberapa "teman" yang "tersebar" di sisi-sisi lainnya. Dan aku tidak menyangkal, goresan-goresan itu sungguh menambah keindahan si ranting kecil.
Oh, Ia telah melewati begitu banyak hal rupanya. Aku tersenyum sendiri. Melanjutkan kekagumanku pada keindahan si ranting kecil.
Aku masih memandangnya saat aku tiba-tiba membayangkan, dalam satu hentakan atau injakan saja, mungkin Ia sudah akan patah menjadi beberapa bagian.
Dan entah mengapa, aku tidak ingin itu terjadi.
Kekagumanku malam itu aku hentikan sejenak. Aku merasa perlu beristirahat.
Karena besok pagi, aku sudah akan pergi dari sini dan melanjutkan perjalananku.
Dan di perjalananku yang selanjutnya, kupastikan aku tidak sendiri. Aku punya teman sekarang.
Ya. Tentu kau tahu siapa.
Satu-satunya perasaan yang dapat dipastikan muncul adalah perasaan bahagia, ketika kita mencintai seseorang dan dia pun mencintai kita.
Sayangnya, perasaan indah nan membahagiakan itu tidak pernah sesederhana itu.
Bagaimana menyatukan dua hati, dua sikap, dua karakter, dua kepribadian, dua kebiasaan, yang berbeda, adalah hal yang tampaknya mustahil untuk dilakukan dengan sempurna, oleh pasangan yang (memang terlihat) sempurna sekalipun.
Manusia memiliki ego, dimana keinginan untuk menyatukan yang berbeda tentu saja sangat besar; menyatukan, dengan harapan dapat menyamakan/membuat menjadi seiring. Karena, meski berbeda itu indah, kau takkan dapat menyangkal pemikiran bahwa yang sejalan mungkin saja lebih baik pasti terlintas juga dipikiran.
Bagaimanapun, bahagia itu tidak pernah berjalan sendiri. Dan yang bahagia, belum tentu berjalan mulus dan lancar seperti berkendara di jalan tol. Bersyukurlah, karena sebagai manusia, Tuhan juga menciptakan perasaan (empati, simpati, dan nurani), yang mampu membuatmu tetap berjalan diatas ego yang terus menolak untuk diam. Perasaan-perasaan itu adalah anugerah, yang membuatmu bertahan, tetap tulus, dan terutama, tetap merasa bahagia. Jadi, meskipun kau berjalan di jalanan berbatu, perasaan-perasaan itu senantiasa menguatkanmu, membuatmu tetap hidup, membuatmu tetap tersenyum.
Itulah mengapa cinta tidak pernah sederhana; ia berharap, berkorban, berusaha, menangis, tertawa, terkadang naif.
Ya, ia memang tidak pernah sederhana, namun membahagiakan.
31 Desember. Hari ini hari terakhir di tahun 2013.
Tahun ini tahun yang penuh makna, setidaknya untukku.
Dan mengenal kamu adalah satu dari banyak hal yang bermakna itu.
Dan aku bersyukur untuk itu semua.
Tuhan begitu baik..
Mudah-mudahan, di 2014, sama seperti harapanku yang tidak pernah berubah: the better me, the better you, the better us.
Happy New Year's Eve, Yoseph Samuel.
Aku sayang kamu.
Kita adalah
Sisa-Sisa Keikhlasan Yang Tak
Diikhlaskan
Kita tak semestinya berpijak
diantara
Ragu yang tak berbatas
Seperti berdiri ditengah
kehampaan
Mencoba untuk membuat
pertemuan cinta
Ketika surya tenggelam
Bersama kisah yang tak
terungkapkan
Mungkin bukan waktunya
Berbagi pada nestapa
Atau mungkin kita yang tidak
kunjung siap
Kita pernah mencoba berjuang
Berjuang terlepas dari
kehampaan ini
Meski hanyalah dua cinta
Yang tak tahu entah akan
dibawa kemana
Kita adalah sisa-sisa
keikhlasan
Yang tak diikhlaskan
Bertiup tak berarah
Berarah ke ketiadaan
Akankah bisa bertemu
Kelak didalam perjumpaan
abadi
Malam kemarin, ya,
malam pertama di bulan Agustus tahun ini,
kuhabiskan sejenak dengan memperhatikan hamparan lampu yang bersinar indah di kejauhan sana; ditengah laut.
Pantai ini tidak begitu indah, sesungguhnya.
Pasirnya tidak seputih pantai-pantai lain yang pernah aku kunjungi sebelumnya. Ombaknya biasa saja.
Lama sekali rasanya sejak terakhir kali aku berhadapan langsung dengan pantai seperti malam kemarin.
Karena itulah, meski tidak seindah pantai lainnya, tetap saja aku terpesona dibuatnya.
Hanya sejenak. Namun,
debur ombak yang tidak terlalu besar, bau pasir basah yang khas, kegelapan malam yang diterangi oleh lampu-lampu kapal di kejauhan, percakapan segelintir orang, angin yang menyentuh lembut...
Oh, aku terpesona.
Semuanya begitu menenangkan.
Well, telah cukupkah ceritaku mempesonamu juga?
Aston Marina, 2nd of August, 00:36.
Melupakan sesuatu, atau seseorang, sepertinya memang tidak mudah.
Takkan pernah semudah itu.
Kalau kata orang,
Tidak semudah membalik telapak tangan.
Tidak semudah menggerakkan kaki untuk berjalan.
Tidak semudah menatap ke layar komputer dan tertawa ketika melihat tayangan lucu di youtube.
Tidak semudah memegang buku dan membacanya dengan rileks, tanpa beban.
Tidak semudah menekan tombol speaker untuk mendengarkan lagu.
Tidak semudah mengangkat telepon yang berbunyi di ruang keluarga.
Sekarang... sadarkah kita bahwa seluruh aktivitas diatas menjadi mudah dilakukan ketika kita telah terbiasa?
Dan tentu sekarang kau pun jadi bertanya-tanya,
lantas, apa relasinya?
Apakah melupakan juga seperti itu?
Ah. Jangan tanya aku.
Jawabannya ada padamu sendiri.
Rindu hadir, perlahan-lahan menyusup ditengah kepasrahan hati.
Awan berlarian, kemudian melukis langit dengan begitu indahnya.
Menciptakan imaji indah akan adanya sebuah pertemuan.
Sebuah pertemuan di langit? tanyamu.
Aku tak menjawab, begitupun dengan awan itu.
Hanya tersenyum. Senyum yang mengisyaratkan sebuah arti: bahwa segala sesuatu yang nampaknya mustahil, dapat saja terjadi.
Kau tersenyum. Aku sudah tersenyum lebih dahulu.
Tak lama berselang...
awan-awan putih bersih yang melukiskan langit dan menciptakan senyum itu pergi,
digantikan dengan awan-awan hitam yang jahat dan membuat langit tak terlihat lagi indahnya.
Awan-awan hitam itu tidak sendiri.
Mereka membawa serta petir dan kilat, yang semakin menambah semarak langit itu.
Semarak luka.
Para penikmat langit menggerutu dan mengeluh.
Mereka benci awan-awan hitam itu.
Awan-awan yang merebut keindahan langit dan menggantinya dengan pemandangan yang menakutkan dan mengoyak hati.
Oh, sesungguhnya, mereka hanya tak tahu; awan-awan hitam itu hanya ingin menangis.
Ah. Aku hampir lupa..
Sekarang, bagaimana dengan aku dan kau?
Masihkah rindu akan menorehkan sebuah cerita di langit?
Kalau untukku,
Aku tak peduli apakah langit sedang indah dengan awan-awan putih bersih, atau langit sedang mengerikan dengan awan-awan hitam menakutkan. Ada satu hal yang tetap sama: aku merindukanmu.
dan aku tahu pasti, kita akan bertemu di langit.
Dengan atau tanpa awan-awan pembawa luka.
Aku tersenyum, kau tersenyum.
Ditengah keindahan bukit,
2013.
I should've forgotten you since yesterday..
I should've accepted our differences since the first time we got a click.
I should've kept the distance between us since the first time I felt that you wanna know me better, as I wanna know you better either..
I should've followed people's suggestions to us since the first time they knew about our closeness.
I shouldn't have let my feeling grow, since I realized I have that special feeling towards you..
Thankyou, for bringing so many beautiful twilights to me that I've finally known another thing able to be enjoyed..
It's June already, by the way.
The best time to memorize all things about you in these last few months..
No regret. Just to keep the memory stay.
1st June, 00.52.
Are you sad?
Eh, um.. just a little bit.
Need shoulder to lean on?
No, I am okay.
Then stop crying.
Actually I am trying but..., I just can't.
That means you're not okay.
Just don't try to hide anything from me, oh dear.
Listen to me..
I may not be able to wipe your tears directly,
To offer my shoulder to be leaned on,
To kiss you dearly.
But just remember that I'm here.
I may not have anything but the lights to warm you.
Don't you think that night is colder than noon even morning?
So, remember...
I'm always here,
filling your night with a smile.
Little talks between the full moon and me.
Bandung, 26 May 2013. 08.50 pm.