December 31, 2023

Amazing 2023.

Thank you for everything, God. 

You are my provider, my all in all.


I'm blessed.beyond.measure.

December 31, 2020

Terimakasih, 2020.

Beberapa menit menuju tahun 2021.

Jika mengingat kembali hal-hal yang terjadi di tahun 2020 ini, tentu banyak hal yang disyukuri, meski duka serta kekecewaan juga hadir melengkapi hari-hari yang berjalan di tahun ini.

Tapi tidak mengapa, lagi-lagi tidak mengapa.

Karena topangan Tuhan selalu nyata, meski hati tak selalu mudah untuk menerima kenyataan seapa-adanya.

Semoga tahun depan lebih baik. Aku tidak minta lebih, apalagi yang muluk-muluk, karena sepanjang hidup sepertinya aku selalu lebih banyak meminta daripada memberi.

Tuhan sertai langkahku saja, rasanya sudah lebih dari cukup. 

Should I ask for more?

December 31, 2019

His time, not mine

Kalau ada yang perlu kukatakan tentang tahun ini, maka jawabannya adalah roller-coaster.
Tahun ini menorehkan cerita uniknya sendiri. Silih ganti airmata bahagia dan airmata duka datang di sepanjang tahun ini, tapi tetap tidak mengurangi rasa syukur karena Tuhan izinkan semuanya terjadi di kehidupanku.
Membuatku semakin bertumbuh dalam pengenalan akan Dia, Sang Empunya Masa Depan.
Di tahun ini juga aku belajar bahwa manusia hanya bisa berencana, tetap Tuhan yang menentukan segalanya.
Aku jadi sadar bahwa waktu yang tepat adalah waktu Tuhan dan bukan waktuku.
Enyah sudah seluruh perasaan ditinggalkan, meski cobaan terus hadir menggerus seluruh kekuatan.
Aku sampai pada pemahaman bahwa seluruh hidupku adalah milikNya, dan segala keraguan hilang diganti sukacita yang rasanya tetap abadi.

2019 nya berharga sekali.
Terimakasih, Tuhan..

December 31, 2018

Lowest Point

Beberapa jam menuju 2019.

Ingatan akan apa yang terjadi di sepanjang tahun 2018 berkelibat didepan mataku.
Dalam menghadapi fase-fase kehidupan, aku percaya, setiap orang pernah berada di satu titik terendahnya.
Tak terkecuali aku.
Kemudian ada yg bertanya,
"Berada di titik terendah itu definisinya apa, sih?"
Tentu ini pun subjektif juga.

Untukku sendiri, titik terendah mungkin bisa digambarkan sebagai suatu kondisi dimana aku benar-benar merasa keberadaanku di dunia ini tak berarti apapun, bagi siapapun.
Selama ini sering aku menemukan kesaksian orang-orang, baik melalui tulisan, channel TV, Youtube, cerita langsung, dan sebagainya..bagaimana banyak orang menghadapi situasi dimana mereka merasa benar-benar ditinggalkan; merasa benar-benar sendirian; merasa benar-benar tidak berharga.
Beberapa menangisi situasi tersebut. Beberapa nekat mencoba mengakhiri hidup. Lainnya berteriak marah kepada Tuhan.

Dan di titik terendah inilah, di tahun ini, untuk pertama kalinya,
Aku merasakan betul apa yang mereka rasakan.
Tak pernah sebelumnya aku merasakan kehampaan yang begitu menyiksa;
Sakit di hati yang rasanya terus menusuk tanpa tahu kapan akan berhenti;
Tangisan yang rasanya tak mengenal akhir;
dan keberadaan Tuhan yang rasanya sangat jauh, jauh sekali..
Teriakanku minta tolong sejalan dengan airmata yang terus tumpah memberatkan mata.
Ada lelah tak berujung yang kurasakan di titik ini.
Kenyataan menamparku keras sampai aku tak sanggup lagi untuk berlari.
Di titik ini, aku dipaksa untuk menonton kebodohanku sendiri, menonton keadaan menertawakanku dengan sangat kencang.
Babak belur aku dihajar oleh kenyataan yang menyakitkan. Ia menelanjangiku tanpa ampun, mengikis habis kepercayaanku pada diri sendiri...

Aku berkubang dalam kesedihan yang mendalam;
aku bertahan berada dalam titik yang menyakitkan ini;
aku menyerah pada mimpi buruk yang datang setiap malam...sampai Tuhan, dengan caraNya yang tak pernah kumengerti, membuatku kembali melihatNya dalam letihku yang amat sangat.

Aku tahu betul, untuk keluar dari titik ini, aku akan melewati proses yang panjang dan sulit.
Namun aku sadar kemudian,
bahwa di titik inilah, titik dimana aku jatuh dan tidak berdaya, aku kembali menemukan Tuhan.
Dan didalam seluruh keberadaanku saat ini,
aku mau berserah penuh...

December 22, 2017

Patah

Beberapa saat yang lalu aku menemukan sebuah ranting,
saat sedang berjalan-jalan menyusuri hutan nan gelap lagi sunyi, namun mendamaikan.

Hidupku baik-baik saja, sampai kusadari ranting itu hampir kuinjak kalau saja aku tidak berjalan pelan-pelan sambil menunduk.
Aku mengambil ranting itu. Bentuknya unik; terlihat rapuh dan kuat sekaligus. Sekilas, aku dapat melihat sebuah goresan kecil di salah satu sisinya, yang membuatnya terlihat indah dan menyayat di saat yang bersamaan.
Kemudian aku memutuskan untuk membawa ranting itu pulang, ke gubuk kecil tempatku menginap sementara di sekitar hutan itu.
Diatas meja kayu, kuletakkan ranting itu, sambil aku duduk dan pelan-pelan memperhatikannya dengan seksama.
Ternyata, Ia indah sekali. Satu goresan kecil yang kutemui saat kuambil pertama kali tadi ternyata memiliki beberapa "teman" yang "tersebar" di sisi-sisi lainnya. Dan aku tidak menyangkal, goresan-goresan itu sungguh menambah keindahan si ranting kecil.
Oh, Ia telah melewati begitu banyak hal rupanya. Aku tersenyum sendiri. Melanjutkan kekagumanku pada keindahan si ranting kecil.
Aku masih memandangnya saat aku tiba-tiba membayangkan, dalam satu hentakan atau injakan saja, mungkin Ia sudah akan patah menjadi beberapa bagian.
Dan entah mengapa, aku tidak ingin itu terjadi.

Kekagumanku malam itu aku hentikan sejenak. Aku merasa perlu beristirahat.
Karena besok pagi, aku sudah akan pergi dari sini dan melanjutkan perjalananku.
Dan di perjalananku yang selanjutnya, kupastikan aku tidak sendiri. Aku punya teman sekarang.
Ya. Tentu kau tahu siapa.

July 4, 2016

The Art of Lost.

Jarak antara cinta dan kebodohan itu memang tipis.
Kenapa pula aku masih peduli? Saat seharusnya kau memang tak perlu lagi untuk diurusi?
Aku berusaha menahan hatiku mati-matian demi untuk menghindarimu, menciptakan jarak yang sesungguhnya perlahan-lahan juga membunuhku.

Satu kata darimu hadir di social media; aku tak tahan untuk tak berkomentar.
Oh, kurang bodoh apalagi? Haruskah aku sekalian menghapusmu dari daftar pertemananku?
Dimana kedewasaan pikiran yang kita gadang-gadang saat itu?
Yang kita agungkan bersama saat memutus tali cinta? Sepakat tidak saling menghapus pertemanan masing-masing di social media manapun. Sepakat untuk mengakhiri semuanya secara baik-baik karena awalnya pun dimulai dengan baik-baik. Sepakat untuk menjalani semuanya seperti biasa tanpa paksaan tanpa tangisan dan tanpa sakit hati.

Entah aku yang bodoh atau kita berdua memang sama-sama bodoh, karena kenyataannya rasa sakit tak bisa ditepis, rasa rindu tak bisa dilawan, rasa hampa tak bisa dicegah untuk terus menusuk-nusuk sampai aku jadi mati rasa.
Seni kehilanganmu, sayang, oh, aku bodoh sekali.

September 8, 2015

LOLOS SNMPTN: 4 years passed!

Jadi ternyata, kemarin, 9 Juli 2015, adalah pengumuman SBMPTN 2015 (dulu jaman saya namanya SNMPTN Tertulis).
Sangat tidak terasa, 4 tahun berlalu sudah, sejak saat dimana saya dan ratusan ribu (calon) mahasiswa menanti-nanti pengumuman SNMPTN Jalur Tertulis di Website www.snmptn.ac.id.
30 Juni 2011 waktu itu, tepatnya.
Dan lucu kalo inget kondisi saya yang waktu itu sedang berada di 'pedalaman', desa Amurang Pinontakan Pontak, dua sampai tiga jam perjalanan dari Kota Manado. Bisa dibilang, disana susah sinyal dan ngga ada warnet untuk akses internet.
Jadi, dengan sangat terpaksa, saya harus nunggu satu hari untuk akses pengumumannya. Saat beberapa teman sudah menghubungi dan mengabari betapa bahagianya mereka dapet pengumuman ketrima di salah satu PTN, saya masih sibuk menebak-nebak dan harap-harap cemas di kampung tanpa akses komunikasi yang memadai. Hahaha. Akhirnya, esok harinya, 1 Juli 2011, dengan sepupu baik hati yang mengantar saya ke desa Motoling (satu-satunya desa terdekat yang ada fasilitas warnet), saya akses juga Website www.snmptn.ac.id yang bikin deg-degan itu.
Dan hasilnya, puji Tuhan, saya diterima! Sastra Inggris Universitas Padjadjaran. :)


Ada begitu banyak pertimbangan yang terlintas di benak saya waktu itu.
Sejak SMP, Biologi telah menjadi sebuah mata pelajaran yang saya cintai sepenuh hati. Asli, cinta banget. Karena kecintaan itu pulalah, saya memutuskan untuk masuk jurusan IPA di kelas 2 SMA (tentunya karena nilainya mencukupi juga untuk masuk ke jurusan IPA), dan kemudian memutuskan untuk menempatkan fakultas kedokteran, jurusan kedokteran umum, sebagai pilihan utama untuk berkuliah. I was excited, really. Tapi ternyata semuanya memang tidak pernah semudah itu, ya.
Awal Desember 2010, saat masih semester 1 di kelas XII (3 SMA), beberapa universitas swasta telah membuka gelombang pertama seleksi masuk untuk tahun perkuliahan 2011 (tahun saya lulus). Mungkin ini menjadi salah satu strategi universitas-universitas tersebut juga untuk 'menggaet' calon mahasiswa, supaya berfikir untuk menyiapkan universitas cadangan kalau-kalau tidak diterima di PTN nantinya.
Karena itu, dengan hati mantap, saya mendaftarkan diri untuk mengikuti gelombang pertama ujian seleksi masuk (USM) fakultas kedokteran di Universitas Kristen Maranatha, Bandung. Mengapa Universitas Kristen Maranatha Bandung yang saya pilih, karena FKU nya memang telah diakui dan memiliki akreditasi yang baik dan cukup recommended.
Mengikuti tes itu, saya tidak sendiri. Netta, kembaran saya, juga ikut serta. Dia, yang juga memiliki cita-cita untuk menjadi seorang dokter (disamping cita-citanya saat itu yang ingin menjadi seorang diplomat, haha. We'll travel around the world ya, Net, someday! Without being a diplomat juga bisa kok! Hehe :p), memutuskan untuk menempatkan jurusan kedokteran umum sebagai pilihan utamanya juga.
Tes di Universitas Kristen Maranatha berjalan dengan cukup baik untuk saya, tetapi tidak untuk Netta. Hal itu dikarenakan sesaat sebelum ujian, dia diserempet oleh sebuah motor saat hendak menyeberang ke arah kampus Maranatha. Jadi begitulah, dia mengerjakan soal tes dengan kondisi nyeri karena lebam dan lecet di kedua kakinya. Lima hari setelah tes, pengumuman hasil tes pun keluar. Pengumuman tersebut diberitahukan by sms. Saat itu, Netta sudah tidak lagi berharap karena kondisinya yang memang kurang fit saat mengerjakan tes. Sementara saya, merasa cukup yakin akan lolos. Namun, yang terjadi kemudian adalah: Netta yang mendapatkan sms bahwa dia berhasil dan diterima di FKU Universitas Kristen Maranatha. Dan sampai hari itu berakhir, sms yang diterima oleh Netta sama sekali tidak masuk ke HP saya, yang artinya: saya tidak berhasil. Saat itu saya sempat bertanya-tanya, mengapa, Tuhan? karena saya merasa saya dapat mengerjakan tes tersebut dengan baik. Namun entahlah, terkadang kita memang tidak mengerti rancangan Tuhan, sampai suatu saat yang berkenan dengan waktuNya, He shows us clearly. We just gotta wait. :)
Setelah tes di Maranatha itu, saya tidak lagi mengikuti tes-tes USM lainnya sampai beberapa bulan setelahnya, karena fokus persiapan UN dan mengikuti bimbel. Kalau Netta, sih, sudah lumayan tenang, karena sudah mendapatkan universitas cadangan.


Ditengah hectic nya masa persiapan UN dan masuk PTN, saya mulai memikirkan untuk menentukan alternatif jurusan yang akan saya ambil selain kedokteran umum. Saat itulah, pilihan saya jatuh pada Sastra Inggris. Salah satu mata pelajaran yang kadar cinta saya relatif sama dengan mata pelajaran Biologi adalah mata pelajaran Bahasa Inggris. Setelah saya pikirkan kembali sekarang, ternyata saya telah menyenangi pelajaran Bahasa Inggris sejak saya masih duduk dibangku SD. Saya juga senang karya sastra. Saya senang membaca novel, cerpen, dan kumpulan sajak, dan saya senang membuat cerpen dan puisi sejak kelas 6 SD. Pada awalnya, saya selalu merasa bahwa kecintaan tersebut hanyalah hobi yang tidak akan saya arahkan kemana-mana selain tetap menjadi hobi. Tetapi dengan berbagai pemikiran, saran, serta opini dari keluarga dan teman-teman terdekat, maka saya menjadi mantap pula memilih Sastra Inggris sebagai jurusan alternatif yang akan saya ambil saat itu.
Tetapi kemudian muncul pertanyaan: Sastra Inggris masuk jurusan IPS. Basic lo di IPA, dan bimbel pun ambil jurusan IPA. Jadi lo mau gimana untuk ngejar belajar mata pelajaran IPS?Solusi yang saya ambil saat itu adalah, saya mengambil waktu ekstra di hari Sabtu sore-malam untuk belajar bersama sahabat-sahabat SMA saya yang major nya memang di IPS dan bimbel jurusan IPS. Jadi setiap hari Sabtu (terkadang Minggu juga), saya menghabiskan waktu khusus untuk belajar soal-soal masuk PTN: pagi-siang ikut bimbel IPA; sore-malam belajar IPS bersama teman-teman. Melelahkan, memang. Tapi selalu ada yang terbayarkan untuk setiap usaha, bukan? :) Yang membuat saya cukup senang pada akhirnya adalah, beberapa hari sebelum ujian SNMPTN, bimbel tempat saya belajar menyediakan fasilitas tryout SNMPTN, yang hasilnya akan disesuaikan dengan datapassing grade PTN yang dimiliki oleh bimbel. Saat itu saya mencoba ikut tryout dan memilih Fakultas Sastra Jurusan Sastra Inggris Unpad, dan hasilnya, saya lolos. Haha. Karena itu masih tryout, saya nggak yakin-yakin banget. Hanya saja itu cukup meningkatkan rasa percaya diri saya dan membuat saya mantap untuk menjadikan Sastra Inggris Unpad sebagai pilihan alternatif. Mengapa saat itu saya pilih Universitas Padjadjaran, karena letaknya yang relatif dekat dengan Jakarta, dan pastinya dekat dengan Universitas Kristen Maranatha Bandung, tempat Netta kemungkinan besar akan berkuliah. Saya teringat pula akan keinginan waktu SMP yang pernah terselip, "suatu saat, aku mau kuliah di Unpad." Hahaha. Waktu itu saya tau Unpad dari novel-novel yang saya baca. Cukup lucu memang kalau diinget-inget lagi sekarang.

Flashback lagi ke detik-detik menjelang UN.
Pada bulan Maret 2011, sebulan sebelum UN, saya memutuskan untuk mengikuti USM kembali. Kali ini pilihan saya jatuh pada Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI). Salah satu alasan saya memilih UKI adalah karena FK UKI juga sudah memiliki akreditas yang baik, dan lokasinya yang ada di Jakarta, dimana memungkinkan saya untuk tetap tinggal bersama orangtua. Akhirnya saya mengikuti USM gelombang 3 FK UKI yang diadakan di Jakarta. Dan tanpa saya duga, hasilnya sama seperti yang di Maranatha: saya dinyatakan tidak lolos. Kembali saya down. Tuhan, ada apa denganku? Pertanyaan itu terus muncul dan muncul, menguras habis rasa percaya diri saya. Pemikiran saya saat itu adalah: kalau di universitas swasta yang skalanya ratusan orang saja kamu belum bisa bersaing, gimana nanti mau ikut SNMPTN yang pesertanya sampai ribuan orang? Saat itu, saya sedih. Mungkin lebih kepada rasa tidak mengerti juga, karena saya merasa bisa mengerjakan seluruh soal dengan baik.
Tetapi, ya, mungkin memang seperti itulah cara kerja Tuhan. Kita hanya harus percaya dengan rancanganNya dalam hidup kita.
Singkat cerita, masa-masa UN pun selesai, dan saya tinggal fokus pada bimbel, SNMPTN, dan segala hal terkait seleksi masuk perguruan tinggi. Sambil tetap menjalankan rutinitas belajar soal-soal masuk PTN, pikiran saya terusik oleh sebuah jurusan yang menjanjikan dan juga "melibatkan" unsur Biologi dan Kimia sebagai elemen utama pembelajarannya: jurusan Teknik Lingkungan! Saya mencari tahu banyak hal tentang jurusan tersebut, prospeknya, perkuliahannya seperti apa, dsbnya. Oleh karena itu, dengan mantap saya akhirnya memutuskan untuk mengikuti ujian SNMPTN Jalur Tertulis dengan mengambil Tes Ilmu Pengetahuan Campuran (IPC), dengan pilihan 1 FK Universitas Sam Ratulangi Manado, pilihan 2 Teknik Lingkungan Universitas Indonesia, dan pilihan 3 Sastra Inggris Universitas Padjadjaran Bandung. Ketiganya, tentunya memiliki porsi penting dalam pertimbangan saya.
Pertengahan bulan Mei 2011, FK UKI kembali membuka USM gelombang ke-4. Saat itu, saya memutuskan untuk mengikuti kembali tes tersebut. Kali ini, saya mengikuti USM tersebut sebagai pembuktian kepada diri sendiri dan sebagai cadangan juga kalau-kalau tidak dapat PTN. Dan puji Tuhan, di tes (nyaris-hopeless) ke-3 saya di FK universitas swasta ini, saya lolos. Pengumuman itu saya dapat tidak lama setelah saya mengikuti ujian SNMPTN Tertulis tanggal 31 Mei - 1 Juni 2011. Tuhan tuh emang baik. Dia nggak biarin saya hidup dalam kekhawatiran. Saat itu, saya bisa buktiin ke diri saya sendiri kalau saya mampu, dan paling tidak, saya masih punya satu pilihan ini kalau-kalau tidak diterima di PTN manapun lewat jalur SNMPTN Tertulis.


Kembali ke momen diatas, saat saya dapet pengumuman SNMPTN. Bersyukur, sudah pasti. Sedikit bingung, iya.
Kondisinya saat itu adalah saya sudah diterima di FK UKI, dan Netta sudah mantap masuk ke FK Maranatha.
Tentu saja, disatu sisi saya merasa cukup bangga karena dapat diterima di PTN, dan Unpad pun telah menjadi salah satu PTN impian saya sejak SMP. Disisi lain, FK pun sudah menjadi jurusan impian saya sejak SMA. Dan menyadari bahwa UKI adalah salah satu institusi terbaik di Indonesia untuk menimba ilmu kedokteran, saya merasa saya tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja. Sumber kegalauan lainnya adalah lokasi kuliah yang berbeda. Kalau saya di UKI, saya akan stay di Jakarta, dan Netta sudah pasti menetap di Bandung dan bakal jarang pulang karena rutinitas kuliah di FK yang memang sangat padat. Secara psikologis, agak sulit untuk kami, ya, sebenarnya, untuk berpisah, karena tidak terbiasa. Sikap ketergantungan satu sama lain inilah yang kemudian menjadi pertimbangan saya juga. Ah, memang banyak sekali pertimbangan saya saat itu. 
Tetapi, malam itu, dihari yang sama saat saya menerima pengumuman SNMPTN, papa mendatangi saya dan mengajak ngobrol. Beliau tahu, beliau tahu persis kegalauan hati anaknya. :)) saya masih inget waktu itu beliau bilang, "papa kasih kamu waktu 2-4 hari untuk berfikir ya dek." Cepat memang, karena saya memang harus buru-buru memutuskan, untuk mengurus segala keperluan administrasi dan sebagainya. "Kita terserah kamu. Kamu yang tentukan karena ini masa depanmu. Apapun pilihanmu papa dukung. Bawa dalam doa terus, minta petunjuk Tuhan. Beriman selalu kalau Tuhan akan kasih yang terbaik." Saat itu saya hanya bisa memeluk papa dan tentu saja memintanya untuk mendoakan saya juga.
Dalam empat hari itu saya terus menerus berdoa, tak henti-hentinya menimbang semua hal. Kembali sisi manusia saya muncul: kenapa Tuhan tempatkan saya di posisi seperti ini? Dimana saya harus memilih antara dua hal yang benar-benar saya inginkan? Maksudmu apa, Tuhan? kalau dipikir-pikir, saya ini emang nggak tahu diri, ya. Hehe. Bisanya protes doang ke Tuhan. Tapi ternyata, pada akhirnya saya tahu, bahwa lewat hal ini, Tuhan cuma pengen ngajarin saya untuk ambil keputusan. Bukan keputusan gampangan, tapi keputusan sangaaaat besar yang akan berpengaruh untuk masa depan saya sendiri. Dan pastinya, Tuhan pengen ngajarin saya buat SELALU bergantung sama Dia, buat membawa semua kekhawatiran saya ke Dia lewat doa (dan puasa). Ya, waktu itu saya sempet puasa juga untuk semakin bergantung dan intim dengan Tuhan.
Hasilnya? Memang tidak mengecewakan. :) Di hari ke-4 setelah terima pengumuman, saya tiba-tiba mendengar sebuah bisikan. Saya beriman bahwa itu suara Tuhan, yang berbicara dalam hati saya. Sederhana saja, cuma ini: "Nessa, ambil Unpad nya." Waktu itu saya masih kurang ngerti, kaget, but it kept surrounding in me. Saya berdoa dan berdoa lagi. Sampai akhirnya saya sampai disatu titik, untuk mantap ambil keputusan. Doa terakhir saya waktu itu, "Oke, Tuhan, aku ambil Unpad nya. Aku lepas UKI nya. Aku tahu, ini yang terbaik yang dari Tuhan. Terimakasih."


Akhirnya, saya jalani kuliah di Sastra Inggris Universitas Padjadjaran dimulai dari bulan Agustus 2011 dan beradaptasi dengan segala hal sebagai mahasiswa baru (maba), yang ternyata...sangat-sangat menyenangkan! Wah, saya bahagia banget, dan menikmati setiap proses sebagai mahasiswa Unpad. Selain lokasi yang tidak terlalu jauh dari Bandung yang memungkinkan saya untuk rutin ngunjungin dan nginep di Netta (hampir selalu saya yang ke Netta sih, karena waktu perkuliahan yang tidak sepadat mahasiswa FK. Haha), Nangor juga cukup nyaman. Segala keperluan sudah tersedia, kosan cukup nyaman dan luas (meskipun di Nangor kosan saya terkenal berhantu, hahaha). 
Saya juga bersyukur, karena selama kuliah, saya bertemu banyak sekali orang dari latar belakang suku, ras, agama, dan lingkungan yang berbeda-beda. Dosen-dosen di Sastra Inggris juga kece-kece. Banyak yang masih muda, ada juga yang sudah berumur tapi masih asik diajak ngobrol sama mahasiswa. Dan saya dikagetkan pula dengan kenyataan bahwa saya tidak sendiri: hampir semua teman-teman sekelas saya pun tidak menempatkan Sastra Inggris sebagai pilihan utama mereka. Saya juga semakin ter-encouraged dengan wejangan singkat dari salah satu dosen favorit saya dikelas saat itu, saat kami masih di semester 1. Kala itu beliau bertanya kepada kami satu persatu, Sastra Inggris menjadi pilihan keberapa, dan apa jurusan utama yang sesungguhnya sangat kami inginkan. Setelah semua mahasiswa sudah menjawab, beliau pun bercerita singkat bahwa beliau juga mengalami hal yang sama (Sastra Inggris bukan pilihan utamanya). Intinya beliau bilang, "kalian udah terjebak disini. Yaudah nyebur sekalian. Make it become enjoyable. I did the same way." Hahaha. 
Dan ternyata, lebih dari sekedar belajar Bahasa Inggris (umumnya orang akan berfikir bahwa yang kami pelajari hanyalah Bahasa Inggris plus struktur gramatikalnya), disini saya belajar pula tentang cara menulis yang baik, cara membaca serta bacaan apa saja yang tidak boleh terlewatkan, budaya masyarakat Inggris, masyarakat dengan negara berbahasa Inggris, asal mula Bahasa Inggris, dan banyaaak sekali hal lainnya yang sebelumnya tidak pernah saya ketahui. Sastra Inggris itu luas sekali cakupannya. Dan tentu saja menyenangkan untuk meng-explore-nya. Saya jadi teringat ungkapan salah satu dosen saat saya mengikuti salah satu mata kuliah di semester 5. Beliau bilang, "Sastra Inggris nggak ngajarin kamu untuk jadi orang yang saklek di satu bidang tertentu yang sudah pasti seperti kedokteran atau teknik. Tapi lebih dari itu, Sastra Inggris ngajarin kamu untuk BERFIKIR KRITIS. Dan you have to know, guys, that's cool. And that's more than anything. Trust me. So, don't let people judge you the worse one. But show them that you can!" Dan begitulah keadaannya. Dengan berkuliah di Sastra Inggris, saya semakin peka terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar. Saya belajar untuk memposisikan diri, berpendapat, berargumen, dan pastinya, mencari tahu banyak hal. Ketika ada sesuatu hal terjadi, kita belajar untuk tidak serta merta bilang "oh, yaudah sih, emang udah gini.", melainkan bilang, "ini kenapa bisa gini? asalnya darimana? penyebabnya apa? apakah akan begini, atau begitu...." semua hal menjadi pertimbangan yang akan dipikirkan baik-baik.


Bahagia saya pun semakin lengkap saat pertengahan semester 2, papa dipindah-tugaskan ke Bandung. Hal ini memungkinkan kami sekeluarga untuk tinggal satu rumah kembali dan yang pasti, saya bertemu teman-teman baru di Gereja GPIB Sejahtera yang juga "memperkenalkan" saya pada banyak nilai hidup, pengalaman, dan kekuatan sebagai suatu komunitas. Saya sangat menikmati setiap proses saya ditempa, baik di kampus, maupun di gereja. Keduanya memiliki porsi yang sama-sama penting dalam pembentukan karakter dan diri saya sampai saat ini.
Februari 2015 kemarin menjadi puncak saya menyelesaikan perjuangan saya di Sastra Inggris Unpad. Segala perjuangan yang prosesnya sangat-sangat saya nikmati sejak awal. Akhirnya, saya bersyukur, karena saya mampu membuktikan kepada diri saya sendiri bahwa saya berhasil di bidang yang saya pilih. Saya berhasil bertanggung jawab dan teguh menghadapi konsekuensi atas pilihan saya. 
Akan sangat berbeda jalannya, tentu saja, jika saat itu saya memilih FK UKI sebagaistepping stone untuk masa depan saya.
Sekarang, ketika saya flashback lagi, saya tidak henti-hentinya merasa bahagia memiliki kesempatan untuk menimba ilmu di salah satu institusi terbaik di negeri ini, yang ternyata membawa saya pada banyak sekali hal-hal baru dan menyenangkan, dan tentunya, tidak akan pernah saya lupakan. Kampus, teman-teman, UKM-UKM, perpustakaan, segala hal tentang Unpad, menjadi begitu saya rindukan sekarang. Hahaha.

Terimakasih tak terkira ini tentu saja untuk Tuhan, atas kesempatan, atas teman-teman yang baik, atas pengalaman berharga, atas bahagia, atas airmata, atas segala hal yang Dia izinkan terjadi untuk memproses saya.


Untuk adik-adik yang baru lolos SNMPTN, selamat ya!
Percayalah, Tuhan tempatkan kalian di tempat kalian masing-masing bukan suatu kebetulan.
Tuhan pasti kasih yang terbaik. Percaya, jalani, dan jadilah terang.
Selamat menikmati proses menjadi mahasiswa, Tuhan berkati senantiasa!



Jakarta, 10 Juli 2015

June 5, 2015

The best thing ever happened to me.

I'm so in love with you, Yoy..
My dear, my one-in-a-million, my amazing love..


December 15, 2014

Love is (not) that simple.

Satu-satunya perasaan yang dapat dipastikan muncul adalah perasaan bahagia, ketika kita mencintai seseorang dan dia pun mencintai kita.
Sayangnya, perasaan indah nan membahagiakan itu tidak pernah sesederhana itu.
Bagaimana menyatukan dua hati, dua sikap, dua karakter, dua kepribadian, dua kebiasaan, yang berbeda, adalah hal yang tampaknya mustahil untuk dilakukan dengan sempurna, oleh pasangan yang (memang terlihat) sempurna sekalipun.
Manusia memiliki ego, dimana keinginan untuk menyatukan yang berbeda tentu saja sangat besar; menyatukan, dengan harapan dapat menyamakan/membuat menjadi seiring. Karena, meski berbeda itu indah, kau takkan dapat menyangkal pemikiran bahwa yang sejalan mungkin saja lebih baik pasti terlintas juga dipikiran.
Bagaimanapun, bahagia itu tidak pernah berjalan sendiri. Dan yang bahagia, belum tentu berjalan mulus dan lancar seperti berkendara di jalan tol. Bersyukurlah, karena sebagai manusia, Tuhan juga menciptakan perasaan (empati, simpati, dan nurani), yang mampu membuatmu tetap berjalan diatas ego yang terus menolak untuk diam. Perasaan-perasaan itu adalah anugerah, yang membuatmu bertahan, tetap tulus, dan terutama, tetap merasa bahagia. Jadi, meskipun kau berjalan di jalanan berbatu, perasaan-perasaan itu senantiasa menguatkanmu, membuatmu tetap hidup, membuatmu tetap tersenyum.
Itulah mengapa cinta tidak pernah sederhana; ia berharap, berkorban, berusaha, menangis, tertawa, terkadang naif.
Ya, ia memang tidak pernah sederhana, namun membahagiakan.

November 16, 2014

Puzzle dan kita

Halo, Yos.
Ga terasa ya, kita udah bareng selama kurang lebih 400 hari.
Senengnya, sedihnya, jayusnya, ketawanya, garingnya, romantisnya, semua kebersamaannya..,
do you know? All of the moments make me love you more and more, day by day.
Terkadang, ada saat dimana aku bener-bener ngerasa kita sama sekali ga cocok dalam segala hal (I know you do feel the same way too, sometimes! Hehe).
Tapi mau tau ngga yang jauh lebih sering aku pikirin? Kamu dan aku yang saling mengerti satu sama lain.
Pernah denger filosofi tentang puzzle ngga? Kita semua tau kalo puzzle itu ga akan menyatu kalau sisi yang di-matched memiliki ruas dan bentuk yang sama. Sebaliknya, kumpulan pembentuk puzzle bakal menyatu kalau mereka punya sisi yang berbeda satu sama lainnya; saling melengkapi, mengisi setiap sisi yang kosong.
Itulah yang kira-kira bisa aku gambarin tentang kita.
Ada begitu banyak ruang berisi perbedaan diantara kita berdua, Yos. Perbedaan yang terkadang membuat perih, memicu airmata untuk turun.
Tetapi kemudian aku sadar, hidup bukan hanya tentang senang dan bahagia saja.
Kesedihan juga bagian dari hidup yang tidak akan pernah bisa kita hindari.
Jadi, kupikir, mengapa tidak kita nikmati saja.
Lagipula, selama kurang lebih 400 hari ini, aku merasakan jauh lebih banyak kebahagiaan.
Bagaimana tidak? Aku pernah mendengar sebuah quote dari salah satu film favoritku, Moulin Rouge, yang bilang,
"the greatest gift you'll ever learn is to love and be loved in return."
Disayangi juga oleh orang yang kita sayang, untukku, sudah lebih dari cukup.
Jadi, anggaplah kesedihan-kesedihan itu sebagai pelengkap (bahkan juga pemanis) yang justru menambah warna-warni perjalanan kita.

1 year, and still counting.
Aku sayang kamu.

July 16, 2014

Magnet.

Mungkin, kau memang bukan yang pertama.
Namun, tidak menjadi yang pertama bukan berarti kau hadir tanpa arti.
Sebaliknya, sungguh sangat berarti.

Begitu banyak perbedaan diantara kita, yang terus saja tarik-menarik bagai magnet.
Terkadang, aku lelah. Aku pun tahu kau juga merasakan hal yang sama.
Namun, lelah bukanlah akhir. Akhirku adalah bahagia, ketika dengan mudahnya aku dibuat tersenyum oleh kehadiranmu. Pertengkaran demi pertengkaran datang, menguatkan juga menggoyahkan, terkadang.
Ya, begitulah.
Meski orang berkata proses adalah yang terpenting, tetap saja aku setia menunggu akhir; akhir dambaan yang membahagiakan. Tidakkah kau sadar, lanangku yang terkasih, diujung setiap pertengkaran, selalu ada hal-hal menguatkan yang kita dapatkan?
Lagipula, pertunjukan tarik-menarik magnet tidaklah membosankan. Sebaliknya, justru sangat menarik. Bagaimana kau bisa terpesona pada dua magnet kutub sama yang spontan saja tolak-menolak (tak dapat bertemu) ketika didekatkan, ketika kau dapat melihat dua magnet kutub berbeda yang "bertarung" dan tarik-menarik ketika didekatkan?
Buatku, kekakuan dua magnet yang spontan saling menolak satu sama lain ketika didekatkan bukanlah hal yang cukup menarik untuk diperhatikan.
Mereka memiliki akhir statis yang telah dapat diprediksi.

Glad to be your magnet pair, Yoy.

Bandung, 11:47 p.m.

December 31, 2013

Last in 2013.

31 Desember. Hari ini hari terakhir di tahun 2013.
Tahun ini tahun yang penuh makna, setidaknya untukku.
Dan mengenal kamu adalah satu dari banyak hal yang bermakna itu.
Dan aku bersyukur untuk itu semua.
Tuhan begitu baik..
Mudah-mudahan, di 2014, sama seperti harapanku yang tidak pernah berubah: the better me, the better you, the better us.

Happy New Year's Eve, Yoseph Samuel.
Aku sayang kamu.

September 5, 2013

Everything has changed.

You absolutely know that this is for you.
And that's all enough.





August 13, 2013

Payung Teduh yang meneduhkan..

Kita adalah
Sisa-Sisa Keikhlasan Yang Tak
Diikhlaskan

Kita tak semestinya berpijak
diantara
Ragu yang tak berbatas
Seperti berdiri ditengah
kehampaan
Mencoba untuk membuat
pertemuan cinta
Ketika surya tenggelam
Bersama kisah yang tak
terungkapkan
Mungkin bukan waktunya
Berbagi pada nestapa
Atau mungkin kita yang tidak
kunjung siap
Kita pernah mencoba berjuang
Berjuang terlepas dari
kehampaan ini
Meski hanyalah dua cinta
Yang tak tahu entah akan
dibawa kemana
Kita adalah sisa-sisa
keikhlasan
Yang tak diikhlaskan
Bertiup tak berarah
Berarah ke ketiadaan
Akankah bisa bertemu
Kelak didalam perjumpaan
abadi

August 2, 2013

Malam dan pantai

Malam kemarin, ya,
malam pertama di bulan Agustus tahun ini,
kuhabiskan sejenak dengan memperhatikan hamparan lampu yang bersinar indah di kejauhan sana; ditengah laut.
Pantai ini tidak begitu indah, sesungguhnya.
Pasirnya tidak seputih pantai-pantai lain yang pernah aku kunjungi sebelumnya. Ombaknya biasa saja.
Lama sekali rasanya sejak terakhir kali aku berhadapan langsung dengan pantai seperti malam kemarin.
Karena itulah, meski tidak seindah pantai lainnya, tetap saja aku terpesona dibuatnya.
Hanya sejenak. Namun,
debur ombak yang tidak terlalu besar, bau pasir basah yang khas, kegelapan malam yang diterangi oleh lampu-lampu kapal di kejauhan, percakapan segelintir orang, angin yang menyentuh lembut...
Oh, aku terpesona.
Semuanya begitu menenangkan.

Well, telah cukupkah ceritaku mempesonamu juga?

Aston Marina, 2nd of August, 00:36.

July 31, 2013

Me-kan pada lupa

Melupakan sesuatu, atau seseorang, sepertinya memang tidak mudah.
Takkan pernah semudah itu.

Kalau kata orang,
Tidak semudah membalik telapak tangan.
Tidak semudah menggerakkan kaki untuk berjalan.
Tidak semudah menatap ke layar komputer dan tertawa ketika melihat tayangan lucu di youtube.
Tidak semudah memegang buku dan membacanya dengan rileks, tanpa beban.
Tidak semudah menekan tombol speaker untuk mendengarkan lagu.
Tidak semudah mengangkat telepon yang berbunyi di ruang keluarga.

Sekarang... sadarkah kita bahwa seluruh aktivitas diatas menjadi mudah dilakukan ketika kita telah terbiasa?
Dan tentu sekarang kau pun jadi bertanya-tanya,
lantas, apa relasinya?
Apakah melupakan juga seperti itu?

Ah. Jangan tanya aku.
Jawabannya ada padamu sendiri.

July 6, 2013

Secuil pleasure

Siapapun kamu, yang mengirimkan ini,
terimakasih..
A midnight package, Borromeus Hospital, around 11.30 pm, 05th of July 2013. 


 

June 19, 2013

Langit.

Rindu hadir, perlahan-lahan menyusup ditengah kepasrahan hati.
Awan berlarian, kemudian melukis langit dengan begitu indahnya.
Menciptakan imaji indah akan adanya sebuah pertemuan.
Sebuah pertemuan di langit? tanyamu.
Aku tak menjawab, begitupun dengan awan itu.
Hanya tersenyum. Senyum yang mengisyaratkan sebuah arti: bahwa segala sesuatu yang nampaknya mustahil, dapat saja terjadi.
Kau tersenyum. Aku sudah tersenyum lebih dahulu.
Tak lama berselang...
awan-awan putih bersih yang melukiskan langit dan menciptakan senyum itu pergi,
digantikan dengan awan-awan hitam yang jahat dan membuat langit tak terlihat lagi indahnya.
Awan-awan hitam itu tidak sendiri.
Mereka membawa serta petir dan kilat, yang semakin menambah semarak langit itu.
Semarak luka.
Para penikmat langit menggerutu dan mengeluh.
Mereka benci awan-awan hitam itu.
Awan-awan yang merebut keindahan langit dan menggantinya dengan pemandangan yang menakutkan dan mengoyak hati.
Oh, sesungguhnya, mereka hanya tak tahu; awan-awan hitam itu hanya ingin menangis.

Ah. Aku hampir lupa..
Sekarang, bagaimana dengan aku dan kau?
Masihkah rindu akan menorehkan sebuah cerita di langit?
Kalau untukku,
Aku tak peduli apakah langit sedang indah dengan awan-awan putih bersih, atau langit sedang mengerikan dengan awan-awan hitam menakutkan. Ada satu hal yang tetap sama: aku merindukanmu.
dan aku tahu pasti, kita akan bertemu di langit.
Dengan atau tanpa awan-awan pembawa luka.
Aku tersenyum, kau tersenyum.

Ditengah keindahan bukit,
2013.

June 1, 2013

Some should-have(s).

I should've forgotten you since yesterday..
I should've accepted our differences since the first time we got a click.
I should've kept the distance between us since the first time I felt that you wanna know me better, as I wanna know you better either..
I should've followed people's suggestions to us since the first time they knew about our closeness.
I shouldn't have let my feeling grow, since I realized I have that special feeling towards you..

Thankyou, for bringing so many beautiful twilights to me that I've finally known another thing able to be enjoyed..
It's June already, by the way.
The best time to memorize all things about you in these last few months..

No regret. Just to keep the memory stay.
1st June, 00.52.

May 26, 2013

Let's talk, Moon.

Are you sad?
Eh, um.. just a little bit.
Need shoulder to lean on?
No, I am okay.
Then stop crying.
Actually I am trying but..., I just can't.
That means you're not okay.
Just don't try to hide anything from me, oh dear.
Listen to me..
I may not be able to wipe your tears directly,
To offer my shoulder to be leaned on,
To kiss you dearly.
But just remember that I'm here.
I may not have anything but the lights to warm you.
Don't you think that night is colder than noon even morning?
So, remember...
I'm always here,
filling your night with a smile.

Little talks between the full moon and me.

Bandung, 26 May 2013. 08.50 pm.